Terbukti Korupsi, Mantan Kepala Desa Diganjar 5 Tahun Penjara

Terbukti Korupsi, Mantan Kepala Desa Diganjar 5 Tahun Penjara

Terbukti Korupsi, Mantan Kepala Desa Diganjar 5 Tahun Penjara

KPK Cegah Tersangka Korupsi RTH Bandung ke Luar Negeri ...

Terbukti Korupsi, Mantan Kepala Desa Diganjar 5 Tahun Penjara – Mantan Kades Nemnemleleu, Kecamatan Sipora Selatan Sese Katet Baga dan Jerlius Sakerebau selaku bendahara serta Johan selaku sekretaris hanya bisa mengusap air matanya di kursi pesakitan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Padang, setelah mereka mendengar vonis hakim, masing-masing ‘dihadiahi’ empat sampai lima tahun penjara.

Vonis tersebut yang dibacakan majelis hakim pengadilan Tipikor Agus Komarudin dengan anggota hakim Zaleka dan Muhammad Takdir. Untuk mantan kepala desa Sese Katet Baga divonis lima tahun penjara dengan denda Rp250 juta dan subsidair satu bulan penjara, kemudian terdakwa Sese Katet juga membayar uang pengganti sebanyak Rp510 juta lebih, jika tidak sanggup membayar uang pengganti selama satu bulan maka hartanya akan disita dan dilelang. 

Mantan Kades Nemnemleleu Sipora Jadi Tersangka Penyalahgunaan Anggaran Desa

“Apabila belum terpenuhi juga hasil sitaan tersebut maka akan dipenjara selama satu tahun enam bulan,” ucap hakim Agus Komarudin dalam sidang putusan di Pengadilan Tipikor, jalan By Pas Padang.

Sementara untuk Julius Sakerebau sebagai bendahara dan Johan sekretaris desa divonis empat tahun delapan bulan penjara dengan denda Rp250 juta, subsidair satu bulan penjara.

Julius sendiri harus membayar uang pengganti senilai Rp270 juta lebih, hal yang sama seperti terdakwa Sese Katet Baga, jika Julius Sakerebau tidak bisa mengganti uang tersebut maka harta bendanya akan disita, jika belum juga terpenuhi uang pengganti dari hasil sitaan tersebut makan hukuman Julius akan ditambah satu tahun penjara.

Sementara untuk Johan sendiri harus membayar uang pengganti senilai Rp297 juta lebih dan apabila hasil sitaan tidak bisa membayar akan ditambah satu tahun penjara.

Vonis hakim ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jovan Waruwu, sebelumnya jaksa menuntut mereka masing-masing tujuh tahun penjara dan denda Rp250 juta, kemudian subsidairnya tiga bulan penjara, kemudian uang pengganti itu Rp304 juta lebih masing-masing terdakwa, hanya saja yang membedakan uang pengganti lebih banyak diberatkan kepada mantan kepala desa.

Sementara pasal yang menjerat yaitu pasal 2 ayat 1 huruf a dan b ayat 2 ayat 3, UU 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang telah diubah UU 20 tahun 2001 pasal 55 Ayat 1 ke 1 jo pasal 64 ayat 1 KUHP

Usai persidangan penasehat hukum ketiga terdakwa tersebut Fadhil Fuad dan Adek Putra masih berpikir apakah akan melakukan banding atau tidak. “Kita masih pikir-pikir dulu,” kata Fadhil usai sidang.

Sementara Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Mentawai, Jovan Waruwu kepada Mentawaikita.com mengatakan hasil keputusan bahwa menjelaskan telah terjadi perbuatan yang melanggar hukum bahwa masing-masing pihak itu punya peran sehingga mereka terbukti melakukan tindak pidana bersama-sama ada yang sebagai pelaku ada yang sebagai peserta.

“Kemudian juga sesuatu pertimbangan yang sangat baik adalah ketika hakim memberikan penjelasan mengenai perbuatan berlanjutnya di Pasal 64 ini dianggap bahwa antara pencairan dana desa pertama, dua dan tiga mempunyai kesinambungan yang kami lihat apabila dua hal ini terbukti berarti dari awal perbuatan melanggar hukumnya kemudian memperkaya diri sendiri, merugikan keuangan negara terbukti, dari situ kalau kami sebagai JPU setuju dengan pendapat majelis hakim,” terangnya.

Tambah Jovan, mengenai pemidanaan berapa banyak yang dihukum tentunya penuntut umum tidak bisa beranggapan setuju atau tidak. “Ini dikarenakan penuntutan kami adalah tujuh tahun penjara tapi putusannya adalah lima tahun kemudiannya yang untuk Johan dan Julius Sakerebau empat tahun delapan bulan, terkait dengan uang pengganti tapi tetap kisaran ratusan juta kemudian subsidair juga berbeda apa yang dituntut sebelumnya, kemudian pertimbangan berikutnya adalah kami akan laporkan pada atasan tentu dalam waktu seminggu kami akan punya sikap,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *