Streaming Film Tumbuh Kala Pandemi

Streaming Film Tumbuh Kala Pandemi

Streaming Film Tumbuh Kala Pandemi

Streaming Film Tumbuh Kala Pandemi – Kertas pemberitahuan penutupan bioskop Cinema XXI di malJatinegara City Plaza, Jakarta Timur. Demi mengurangi penyebaran virus Corona, beberapa bioskop di Jakarta dan beberapa kota lainnya di Indonesia memutuskan untuk tutup sementara.

Jaringan bioskop Indonesia menunggu instruksi atau surat edaran pemerintah mengenai detail pengoperasian kembali selama periode new normal. Public Relation Manager CGV Cinemas Hariman Chalid mengatakan pengoperasian kembali CGV Cinemas belum tentu bersamaan dengan pembukaan kembali pusat perbelanjaan.

“Pembukaan mal bukan berarti CGV juga akan dibuka di tanggal tersebut karena belum ada instruksi spesifik dari pemerintah mengenai industri bioskop boleh kembali dibuka,” kata Hariman.

Menurutnya, saat ini CGV Cinemas tetap memperhatikan informasi terkini sekaligus instruksi pemerintah pusat dan daerah terkait wabah virus corona.

Mereka menunggu surat edaran sama seperti yang diterbitkan pemerintah pada Maret 2020 kala Covid-19 mewabah di Indonesia dan meminta sejumlah industri hiburan, termasuk bioskop, tutup sementara demi meredam penyebaran virus corona.

Bisnis layanan over the top (OTT) streaming film diprediksi akan meraup keuntungan seiring dengan perpanjangan masa penutupan bioskop demi mengurangi penyebaran virus corona SARS-CoV-2.

Memanfaatkan layanan OTT melambung bersamaan warga dunia terpaksa berdiam di rumah selama masa karantina akibat pandemi Covid-19.

“Industri video on demand mengalami kenaikan yang sangat signifikan pada saat pandemi. Ke depan bahkan saya rasa akan naik siginifikan seiring dengan masih diberlakukannya lockdown. Yang pasti saat pandemi ini merupakan periode yang menguntungkan bagi perusahaan video on demand,” ujar Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda.

Forrester melaporkan layanan OTT seperti Netflix pada kuartal pertama 2020 melampaui jumlah pelanggan baru global sebesar 80 persen. Netflix dilaporkan mendulang 15,77 juta pelanggan baru berkat pandemi virus Covid-19 yang membuat semua orang beralih ke streaming dan mencetak rekor keuntungan perusahaan tersebut.

Kini, layanan streaming itu mengklaim telah memiliki 182,9 juta pelanggan secara global. Capaian itu naik 22,8 persen dari awal tahun.

Huda memprediksi layanan video streaming atau video on demand akan memiliki fitur live streaming sehingga penggunanya bisa menikmati hiburan konser, sirkus, atau pertunjukan drama musikal.

Di sisi lain, Huda mengatakan ada beberapa rintangan yang dihadapi oleh penyedia layanan video on demand. Salah satunya adalah kesesuaian konten dengan keinginan pasar yang sangat dinamis.

“Industri video on demand ini sangat bergantung dengan konsumen. Jadi video yang ditawarkan harus sesuai dengan keinginan konsumen,” ujar Huda.

Huda mengambil contoh Hooq yang harus gulung tikar pada 30 April. Huda menjelaskan layanan streaming film itu melakukan kesalahan dalam membaca kebutuhan konsumen di Indonesia.

Huda mengatakan kesalahan ini terjadi ketika Hooq memperbanyak film produksi lokal. Padahal, konsumen Indonesia menuntut konten impor, terutama konten produksi Korea Selatan. Oleh karena itu, Hooq salah strategi dan tak membaca keinginan pasar di Indonesia.

“Hooq ini salah mengambil langkah dengan memperbanyak video lokal namun pangsa pasarnya meminta video impor, kebanyakan dari Korea Selatan. Maka Hooq tidak bisa bertahan akhirnya,” ucap Huda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *