Stafsus BUMN Harap Maria Pembobol BNI Kembalikan Duit Rp1,7 T

Stafsus BUMN Harap Maria Pembobol BNI Kembalikan Duit Rp1,7 T

Stafsus BUMN Harap Maria Pembobol BNI Kembalikan Duit Rp1,7 T

Stafsus BUMN Harap Maria Pembobol BNI Kembalikan Duit Rp1,7 T – Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga berharap kerugian PT BNI (Persero) Tbk sebesar Rp1,7 triliun bisa dikembalikan.

Usai pemerintah melakukan ekstradisi terhadap Maria Pauline Lumowo, buronan dari Serbia ke Indonesia.

“Mudah-mudahan selama proses hukum di Indonesia itu juga bisa membawa dampak bahwa kerugian yang dialami oleh BNI bisa dikembalikan oleh tersangka dengan kembalinya ke Indonesia,” kata Arya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis.

Kementerian BUMN, lanjut Arya, mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly dalam melakukan ekstradisi kepada Maria dari Serbia ke Indonesia.

Meskipun demikian, dikatakan bahwa Indonesia sendiri tidak memiliki ikatan ekstradisi dengan Serbia.

Meski demikian, hal itu tak menghalangi upaya pemerintah dalam melakukan ekstradisi terhadap Maria.

“Walaupun Serbia tidak memiliki hubungan ekstradisi di Indonesia tapi (Maria) berhasil dibawa ke Indonesia. Kami juga berterima kasih kepada duta besar Indonesia di Serbia yang telah membantu proses ini,” jelas Arya.

Diketahui, Maria merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas Bank BNI cabang Kebayoran Baru lewat Letter of Credit (L/C) fiktif. Ia lahir di Paleloan, Sulawesi Utara, 27 Juli 1958.

Selama 17 tahun pelarian, Maria sudah tinggal ke berbagai negara. Maria bahkan telah tercatat sebagai warga negara Belanda sejak 1979.

Pemerintah Indonesia pernah dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yakni pada 2010 dan 2014, tetapi ditolak.

Pemerintah Belanda baru saja memberinya pilihan untuk menjalani proses persidangan Maria di Belanda.

Kasus Maria sendiri bermula saat BNI mengucurkan pinjaman senilai US$136 juta. Dan 56 juta euro kepada PT Gramarindo Group pada Oktober 2002 sampai Juli 2003 silam. Perusahaan itu adalah milik Maria.

Aksi PT Gramarindo Group diduga dapatt bantuan dari ‘orang dalam’ sebab BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi bank pelat merah itu.