Perbedaan Istilah Disabilitas dan Difabel

Perbedaan Istilah Disabilitas dan Difabel

Perbedaan Istilah Disabilitas dan Difabel

Perbedaan Istilah Disabilitas dan Difabel – Menurut UU no. 8 Tahun 2016, penyandang disabilitas adalah setiap individu yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental dan atau sensorik dalam jangan waktu lama. Mereka mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Sebelum pemerintah mengesahkan UU No. 8, Indonesia menggunakan istilah ketunaan bagi individu difabel. Kini, aturan mengenai penyandang disabilitas serta informasi terkait dituangkan dalam undang-undang nomor delapan tersebut.

Anda pasti sudah sering mendengar istilah disabilitas dan difabel. Faktanya walaupun terdengar sama, tetapi kedua istilah ini memiliki arti yang berbeda. Kedua istilah ini lah yang saat ini digunakan untuk menggantikan istilah penyandang cacat untuk menjelaskan kondisi seseorang tidak bisa melakukan aktivitas seperti orang normal dan sehat.

Hal ini dikarenakan, penyandang cacat terdengar cenderung kasar, tidak sopan, dan merendahkan bagi penderitanya. Oleh karena itu, istilah difabel dan disabilitas hadir untuk menggantikan penyandang cacat. Kedua istilah ini memiliki perbedaan makna yang cukup jelas. Supaya tidak salah dalam penyebutannya, ini perbedaan istilah disabilitas dan difabel.

Disabilitas merupakan kondisi pembatasan aktivitas dikarenakan adanya keterbatasan fisik, intelektual, mental atau sensorik dalam jangka waktu yang lama. Penderita disabilitas akan mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan lingkungan sekitar berdasarkan kesamaan hak.

Terdapat empat jenis disabilitas yaitu:

  • Disabilitas fisik: Amputasi, lumpuh, paraplegi, stroke, disabilitas akibat kusta, cerebral palsy (CP).
  • Disabilitas intelektual: Down syndrome, kretinisme, mikrosefali, makrosefali, dan skafosefali.
  • Disabilitas mental: Skizofrenia, demensia, afektif bipolar, retardasi mental.
  • Disabilitas sensori: disabilitas netra, disabilitas rungu, dan disabilitas wicara.

Pengertian disabilitas ini memang cukup kompleks dan menggambarkan interaksi antara gerakan tubuh seseorang dengan orang lain yang berada di lingkungan sekitarnya.

Sebagai contoh, seseorang menderita cerebral palsy (kelainan gerakan otot) mengalami kesulitan berjalan dan bergerak karena kakinya kaku dan terasa kencang. Kondisi inilah yang disebut sebagai disabilitas. Namun kondisi disabilitas ini bisa dikurangi dengan alat bantu berjalan dan juga terapi fisik.

Secara umum istilah difabel merupakan bentuk yang lebih halus dan sopan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami disabilitas. Difabel merupakan kondisi seseorang yang bermasalah dengan struktur atau organ tubuh seperti, kecacatan yang mengakibatkan adanya batasan fungsional yang berkaitan dengan aktivitas penderitanya. Difabel juga lebih mengacu pada keterbatasan peran dalam kehidupan sehari-harinya di dalam masyarakat.

Contohnya, seseorang penderita cerebral palsy tadi tetap dapat memenuhi perannya seperti orang normal. Ia tetap bisa menjadi murid di sekolah, warga yang baik di lingkungan masyarakat, dan seorang anak di rumah, meski memiliki keterbatasan fisik.

Karena melakukan terapi fisik dan dengan bantuan alat bantu kondisinya perlahan membaik dan bisa beraktivitas dengan normal seperti teman-teman dan orang di sekitarnya. Orang-orang dengan keterbatasan fisik yang menjalani peran selayaknya orang normal inilah yang disebut sebagai difabel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *