Penyandang Disabilitas Sukses Membuat Kursi Roda

Cerita Lydia, Penyandang Disabilitas yang Bikin Kursi Roda

Penyandang Disabilitas Sukses Membuat Kursi Roda

Penyandang Disabilitas Sukses Membuat Kursi Roda. Keterbatasan fisik tak membuat Lydia Anggraeni Kidarsa mudah menyerah dalam menjalani hidup. Baru-baru ini penyandang spinal muscular atrophy itu mendesain alat bantu disabilitas menjadi lebih nyaman, berfungsi baik, dan juga menarik.

Dalam sebuah kesempatan acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Balai Kota Bandung, Sabtu, Lydia memamerkan karya kursi roda bagi disabilitas ciptaannya. Salah satu yang menarik perhatian adalah kursi roda tersebut diberi tampilan etnik dengan kain tradisional. Dilihat dari modelnya yang unik, orang-orang mungkin tidak menyangka kalau itu adalah hasil karya seorang penyandang disabilitas.

Selain itu, wanita asal Bandung ini juga membuat kursi roda bagi penyandang spinal muscular atrophy, serta kursi roda khusus bagi bayi kembar siam asal Garut, Jawa Barat bernama Al Putri Anugrah dan Al Putri Dewiningsih.

Karya-karya wanita berusia 46 tahun ini memang tak banyak dipamerkan. Hal itu karena alat bantu dan mobilitas yang dia ciptakan tidak diproduksi secara massal.

“Satu unit kursi roda prosesnya bisa sampai tiga bulan. Basic-nya custom, begitu jadi langsung dibawa sama penggunanya,” kata dia. Dalam proses pembuatannya, Lydia biasa mengukur sesuai kebutuhan si pemakai.

“Buat janji pertemuan, nanti anak akan diperiksa dan diukur. Setelah setengah jadi ada proses fitting, kalau-kalau ada perubahan langsung dilakukan. Bila sudah pas alat dibawa pulang,” jelasnya.

Lulusan perguruan tinggi negeri riset di Imperial College London tersebut mengaku sejumlah karya dan produk-produk yang dihasilkan banyak peminat dan saat ini sudah diminati berbagai daerah seperti Jakarta, Medan dan lain-lain.

Dituturkan Lydia, alat bantu jalan yang ia bikin menerapkan bioteknik desain dengan mengutamakan kenyamanan bagi penggunanya.

Mulai merintis sejak 2006

Lydia mengalami kondisi spinal muscular atrophy tipe 3 di mana dia tidak bisa jauh berjalan. Dalam usia empat tahun, Lydia didiagnosa mengalami kelainan genetik tersebut.

“Jalannya melamban dan mudah capek. Kalau harus berjalan jauh saya membutuhkan tongkat,” ucapnya. Sebagai anak berkebutuhan khusus, Lydia diberi kesempatan berkembang berkat dukungan keluarga. Dia diberi kesempatan bermain dan berpartisipiasi di lingkungannya.

Saat ini, alat bantu postural mobilitas yang sudah dia buat antara lain kursi roda, kursi aktivitas, alat bantu berdiri dan alat bantu berjalan. Rancangan Lydia bukan sekadar alat bantu, tapi juga bisa digunakan sebagai bagian dari penampilan mereka.

Dikatakan Lydia, pengalaman hidup memotivasi dirinya untuk menghasilkan produk-produk bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan harapan anak-anak tersebut bisa berkembang di lingkungan masing-masing tanpa kesulitan.

“Tidak semua anak mendapatkan kesempatan ini. Karena itu saya bercita-cita menciptakan kursi roda untuk bisa membantu aktivitas mereka,” ucapnya.

Dorongan keluarga terhadap pendidikan Lydia amat nyata. Dia berhasil menyelesaikan studi S-1 teknik fisika ITB, dan S2 teknik biomedika dan teknik desain industri di Royal College of Art dan University of Surrey.

Lydia kemudian merintis usaha di bidang bioteknik desain sejak 2006 silam. Setelah mengikuti salah satu program beasiswa, permintaan akan produknya meningkat sehingga dia menambah asisten untuk membantunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *