Penyandang disabilitas, berkarya demi hidup mandiri

Penyandang disabilitas, berkarya demi hidup mandiri

Penyandang disabilitas, berkarya demi hidup mandiri

Penyandang disabilitas, berkarya demi hidup mandiri

Penyandang disabilitas, berkarya demi hidup mandiri – Keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat Andika Indra Saputra, 30 tahun, untuk berkarya dan hidup mandiri. Terlahir sebagai penyandang cerebral palsy dengan keterbatasan motorik, Andika tetap tekun membatik. Begitu pula Agus, 23 tahun, penderita tuna rungu.

Hari ini, di The 20th Jakarta International Handicraft Trade Fair 2018, kedua pekerja di workshop batik tulis milik Zola Indonesia ini berunjuk gigi memamerkan keahliannya membatik kepada para pengunjung.

Dengan tangan kirinya, Andika memegang canting lalu membubuhkan malam cair ke sehelai kain berpola.

“Ini motif kotak, saya akan membuat sarung bantal,” ujar Andika, kepada Anadolu Agency, Jumat.

Sedang Agus tengah membuat selendang bermotif padi berpadu bunga-bunga.

Sejak tahun lalu, keduanya bergabung dengan worksop batik tulis milik Zola Indonesia. Mereka memproduksi beragam karya bermotif batik, dari selendang, baju, lukisan, hingga berbagai souvenir bermotif batik.

Batik karya Andika, Agus, dan penyandang disabilitas lainnya, kerap turut serta dalam fashion show dengan kategori karya disabilitas.

Ejekan memacunya untuk berkarya 

Andika mengaku saat kecil kerap menjadi bahan ejekan teman-teman akibat keterbatasannya. Makanya, ketimbang bermain bersama teman layaknya siswa Sekolah Dasar pada umumnya, Andika lebih memilih berdiam diri di rumah.

Ejekan itu justru memacu Andika untuk terus berusaha. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa penyandang disabilitas pun dapat berkarya, seperti manusia lainnya.

“Saya ingin memotivasi para penyandang disabilitas dan orang tuanya, kalau kita juga bisa menghasilkan karya dan hidup mandiri,” kata Andika.

Selain membatik, Andika gemar menonton siaran berita di televisi. Ia heran, mengapa berita-berita yang disiarkan lebih banyak seputar politik dan ekonomi.

“Informasi seputar difabel hampir tak terekspos media,” ujarnya prihatin.

Andika juga aktif menyuarakan keprihatinannya akan nasib para penyandang disabilitas. Desember tahun lalu, bersama Lembaga Swadaya Masyarakat pemerhati disabilitas, Dria Manunggal, Andika beraudiensi kepada dinas setempat soal minimnya akses jalan dan tempat ibadah yang ramah disabilitas.

Jalur pengguna kursi roda untuk masuk ke halte Transjogja, misalnya, amat curam dan kadang terhalang pepohonan. Selain itu, di Yogyakarta, satu-satunya tempat ibadah yang memberikan jalan bagi pengguna kursi roda hanya masjid Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

“Kami berdiskusi dengan dinas setempat agar tersedia jalur masuk ke halte Transjogja yang landai, supaya teman-teman disabilitas bisa masuk tanpa perlu bantuan orang lain,” kata Andika.

Karya dengan karakter

Pemilik Zola Indonesia Lili Wijaya mengatakan dari 20 orang pegawai yang ada di workshopnya, 15 di antaranya merupakan penyandang disabilitas. Selain pewarnaan, seluruh produksi ditangani para disabillitas.

Pekerja lainnya adalah Hartono, 36, tunadaksa yang salah satu kakinya harus diamputasi setelah mengalami kecelakaan kerja di Malaysia. Hartono bertugas sebagai perancang pola yang kemudian digunakan oleh Andika dan teman-temannya.

“Mereka memiliki passion dan antusiasme luar biasa dalam berkarya,” ujar Lili.

Lili mengatakan Zola Indonesia berkomitmen memberikan ruang pada penyandang disabilitas untuk berkarya, sehingga mereka dapat hidup mandiri.

“Kita tak bisa memandang mereka sebelah mata. Buktinya, setelah dilatih, mereka bisa berkarya, bahkan karya-karya mereka memiliki karakter,” kata Lili.

Lili berharap ke depan akan lebih banyak pengusaha yang peduli pada penyandang disabilitas.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *