Facebook Bisa Terancam Hancur

Facebook Bisa Terancam Hancur

Facebook Bisa Terancam Hancur

Facebook Bisa Terancam Hancur – Wakil Presiden Facebook untuk Urusan Publik Nick Clegg buka suara soal aksi boikot iklan yang dilakukan sejumlah perusahaan karena mereka menilai Facebook gagal mengatasi konten hoaks dan ujaran kebencian.

Aksi boikot itu juga diiringi dengan sejumlah warganet di media sosial Twitter yang menggaungkan tagar #StopHateForProfit.

Perusahaan otomotif Honda merupakan salah satu penggerak tagar itu. Lewat akun Twitter resmi @HondaInclusion, mulai bulan Juli 2020, perusahaan akan menangguhkan iklan di Facebook dan Instagram.

“Bulan Juli, American Honda menangguhkan iklan di Facebook dan Instagram. Kami memilih untuk berdiri dengan orang-orang yang bersatu melawan kebencian dan rasisme,” cuit Honda pada 27 Juni lalu.

“Ini (kebencian dan rasisme) tidak selaras dengan nilai-nilai perusahaan kami yang didasarkan pada rasa hormat kepada manusia #StopHateForProfit,” lanjut Honda.

Seminggu belakangan ini, Facebook menghadapi serangan boikot dari beberapa pengiklan besar. Boikot ini merupakan bagian dari kampanye ‘Stop Hate for Profit’ yang mengklaim Facebook tidak cukup serius dalam menghapus konten rasis dan penuh kebencian di platform-nya.

Perusahaan yang memutuskan untuk tidak lagi beriklan di Facebook terbilang besar, seperti Coca-Cola, Unilever, Starbucks, Adidas, HP dan Ford. Kehilangan pengiklan sebesar dan sebanyak ini, apakah bisnis Facebook bisa hancur?

David Cummings dari Aviva Investors mengatakan hal ini bisa saja melukai Facebook mengingat iklan merupakan sumber pemasukan terbesar mereka. Jika pengiklan mulai kehilangan kepercayaan dan merasa Facebook tidak memiliki kode moral, bisa saja bisnis mereka hancur.

Menurut Clegg, Facebook tidak mendapat profit atau keuntungan apapun dari konten-konten yang berisi ujaran kebencian maupun informasi palsu yang beredar di platform mereka.

Malah sebaliknya, perusahaan sama sekali tidak menyukai konten-konten tersebut.

“Kami sama sekali tidak mendapat insentif untuk mentolerir ujaran kebencian. Kami tidak menyukainya, penggunaan kami tidak menyukainya, pengiklan pun tentu saja tidak menyukainya. Kami mendapat manfaat dari koneksi manusia yang positif, bukan kebencian,” kata Clegg.

Clegg menekankan usaha yang dilakukan Facebook untuk memerangi konten-konten negatif di platform. Menurut data internal, setiap bulan pihaknya menghapus lebih dari tiga juta unggahan ujaran kebencian bahkan 90 persen di antaranya langsung di takedown.

Selain itu, Clegg berdalih bahwa Facebook telah menerapkan fitur label peringatan untuk unggahan yang dianggap melanggar kebijakan perusahaan.

Meskipun usaha demi usaha sudah dilakukan, Clegg memastikan pihaknya akan terus melakukan pembaruan untuk menangkal konten berisi ujaran kebijakan maupun hoaks.

“Itu sebabnya kami perlu untuk meningkatkan, menerapkan kebijakan, dan menegakkannya sehingga orang-orang merasa aman dan pengguna setia Facebook terus merasakan pengalaman yang positif,” tegasnya.

“Kami akan menangani masalah ini dengan tanggung jawab yang jelas,” pungkas Clegg.

Setidaknya ada 12 perusahaan besar yang melakukan aksi boikot Facebook, beberapa diantaranya adalah Unilever, rumah produksi Pictures, Coca Cola, produsen perlengkapan outdoor The North Face, dan Honda.

Sampai Jumat pekan lalu saja, nilai saham Facebook melorot 8% dan membuat kekayaan sang pendiri Mark Zuckerberg anjlok USD 7,3 miliar. Jika dibiarkan, bisnis Facebook bisa lebih goyang lagi. Namun pihak Facebook optimistis bisa lewat dari ancaman bisnis ini, karena beberapa faktor.

Pertama, banyak perusahaan besar yang memboikot Facebook hanya pada bulan Juli. Kedua, pendapatan Facebook dari iklan sebagian besar datang dari bisnis kecil dan menengah.

Laporan CNN menyebutkan 100 merek yang paling banyak mengeluarkan uang untuk beriklan di Facebook menghabiskan USD 4,2 miliar. Jika dibandingkan dengan keseluruhan pendapatan Facebook yang didapatkan dari iklan, kontribusinya hanya 6%.

Hingga saat ini sebagian besar perusahaan kecil dan menengah ini belum bergabung mengikuti boikot. Head of Strategy Digital Whiskey, Mat Morrison mengatakan bisnis kecil dan menengah ini tidak bisa berhenti beriklan di Facebook.

Sebabnya bisnis kecil ini tidak memiliki modal untuk beriklan di TV atau media lainnya. Jadi iklan di Facebook yang lebih murah dan bisa menargetkan audiens secara spesifik merupakan sesuatu yang esensial.

“Satu-satunya cara bisnis kami berjalan adalah dengan memiliki akses kepada audiens yang sudah ditargetkan, yang bukan audiens media massa, jadi kita akan terus beriklan,” kata Morrison.

Tapi setidaknya Facebook sudah mulai melakukan kompromi soal moderasi konten di platformnya. Pada pekan lalu, perusahaan media sosial ini mengumumkan akan memberi tag pada konten yang berisi ujaran kebencian.

Boikot terhadap perusahaan media sosial seperti Facebook juga bukan hal baru. Pada tahun 2017, beberapa perusahaan besar mengumumkan akan berhenti beriklan di YouTube karena ada iklan yang ditempatkan di video yang berisi konten rasis dan homofobia.

Boikot tersebut tidak bertahan lama dan kini hampir dilupakan. YouTube kemudian mengubah kebijakan iklan dan kontennya dan kini bisnis mereka tetap berjalan lancar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *