22 juni dijadikan hari ulang tahun jakarta yang ke 493

22 juni dijadikan hari ulang tahun jakarta yang ke 493

22 juni dijadikan hari ulang tahun jakarta yang ke 493

22 juni dijadikan hari ulang tahun jakarta yang ke 493,- Mendiang sejarawan dan pastor kenamaan Adolf Heuken pernah mengutarakan argumen menarik soal Jakarta. Bagi pria kelahiran Jerman yang memutuskan pindah jadi WNI karena kecintaannya pada ibu kota tersebut, hari ulang tahun DKI Jakarta yang saban tahun diperingati pada 22 Juni adalah dongeng semata.

“Sampai sekarang hari ulang tahun Jakarta belum dapat ditentukan dengan pasti. Alasan pro dan kontra masih sama kuat,” kata Heiken dalam bukunya.

Heuken punya alasan,Menurut dia, hingga kini belum ada ada satupun dokumen sejarah kredibel yang bisa membenarkan bahwa hari ulang tahun Jakarta memang pantas diperingati pada 22 Juni.

Menurut Heuken, dokumen itu masih perlu dibuktikan kebenarannya. Selama ini Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta memang menyosialisasikan 22 Juni 1527 sebagai kelahiran Jakarta. Namun faktanya, menurut Heiken, pada 1957 istilah Jakarta juga tidak pernah didengungkan secara resmi. Saat itu wilayah ini masih dikenal orang-orang dengan nama “Jayakarta.”

Istilah Jakarta baru muncul pada medio 1970an, tepatnya waktu serdadu Portugis menyebut Jayakarta sebagai ‘Jakarta’ dalam laporan pada atasan mereka.

Perdebatan soal tanggal yang layak diperingati sebagai hari kelahiran Jakarta bukan sekali dua kali saja terjadi. Pada 1988, Budayawan Betawi Universiti Kebangsaan Malaysia, Ridwan Saidi, juga pernah pula mengajak publik untuk menguji kebenarannya.

Saidi bahkan membuat teori lain bahwa Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta yang benar adalah 3 September 1945. Dasar yang ia pakai adalah penetapan Jakarta sebagai Kota Praja oleh Presiden Soekarno pada 3 September 1945.

Lalu mengapa 22 juni?

Terlepas dari pro dan kontranya, penetapan 22 Juni sebagai HUT Jakarta juga bukan dilakukan seenak jidatnya. Penetapan ini dilakukan oleh Sudiro, Gubernur ketiga Jakarta yang menjabat 1953-1958.

Kisah bermula pada 1955, tatkala Sudiro prihatin karena Jakarta tak punya hari lahir untuk dirayakan. Padahal, perayaan ulang tahun menurutnya adalah sesuatu yang penting.

Sebagaimana dinukil Alwi Shahab dalam Saudagar-Saudagar Baghdad dari Betawi (2009: hal.124), saat itu sebenarnya Sudiro punya opsi untuk menetapkan tanggal-tanggal di penghujung bulan Mei. Sebab, ketika ibu kota masih bernama Batavia dan berada dalam penjajahan, Belanda kerap membuat pesta perayaan pada penghujung Mei. Momen tersebut bertepatan dengan keberhasilan Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen menaklukkan Jayakarta pada 1619.

Tapi Sudiro tak menyukai gagasan tersebut. Baginya, merayakan hari lahir dengan mengacu pada kalender penjajah akan mencederai semangat bangsa Indonesia yang kala itu umur kemerdekaannya belum genap 10 tahun.

Sudiro lantas mengundang tiga sejarawan kondang ke ibu kota, untuk berdiskusi mencari tanggal yang lebih baik. Ketiga sejarawan itu masing-masing adalah Mohamad Yamin, Sukanto, dan wartawan senior Sudarjo Tjokrosisworo.

Berbulan-bulan usai pertemuan itu, akhirnya lahirlah naskah berjudul Dari Jakyakarta ke Jakarta yang disusun Sukanto. Naskah ini—yang salah satunya menggunakan Tjarita Purwaka Tjarupan Nagari sebagai acuan—lantas mengusulkan agar 22 Juni 1527 jadi hari lahir Jakarta.

Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan keberhasilan Fatahillah mengusir portugis dari Jayakarta, yang sebelumnya biasa dikenal dengan sebutan Sunda Kelapa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *